Jumat, 22 September 2017

Nuriska "Kartini"di Balik Rumah Hijrah Punksteur

id komunitas punk
Nuriska
Kegiatan anak-anak punk di Rumah Hijrah Punksteur, Cimahi (15/4/2017) (ANTARA News/Ajat Sudrajat)
Gugup, itulah perasaan yang muncul pada dirinya saat harus mengajarkan anak punk belajar mengaji.
Antarajabar.com - Kelembutan hati dari seorang ibu atau perempuan terbukti bisa mengubah seseorang ke arah yang lebih baik.

Hal tersebut telah dibuktikan oleh Nuriska Fahmiany, perempuan asal Kota Cimahi, yang menjadi salah seorang sosok berdirinya komunitas untuk anak-anak punk di Kota Bandung yang diberi nama "Rumah Hijrah Punksteur".

"Salah satu yang bisa membuat hati penuh terisi adalah ketika kita bisa menularkan kebaikan kepada orang lain. Ketika orang lain merasakan kebaikan yang juga pernah kita rasakan," kata Nuriska membuka obrolan dengan Antara, di Bandung, beberapa waktu lalu.

Ia menuturkan awal mula dirinya bisa terlibat dengan anak-anak punk di Rumah Hijrah Punksteur adalah karena faktor ketidaksengajaan.

Kala itu, Nursika yang merupakan penggagas dari komunitas Kebukit atau Kelola Buku Kita diundang untuk menghadiri sebuah acara di Jakarta.

"Itu akhir tahun 2016, saya diundang ke sebuah acara kerelawanan sama pendiri Punk Muslim di Jakarta. Terus anak-anak tersebut datang ke kita, ngobrol-ngobrol dan mereka menyatakan ingin berhijrah," kata dia.

Merespon keinginan untuk berhijrah dari anak-anak punk tersebut, Nuriska mengusulkan ide pembuatan sebuah perpustakaan di base camp atau tempat mereka berkumpul.

"Mereka itu punya basecamp, di belakang Rumah Sakit Hermina Pasteur, tepatnya di daerah Cipedes Hilir. Di sana, saya dan teman-teman Kebukit membuatkan mereka sebuah perpustakaan," kata dia.

Tak hanya membangun  perpustakaan, Nuriska dan relawan Kebukit lainnya juga memberikan kegiatan lainnya untuk kawan Punkers (sebutan darinya untuk para anak punk yang ingin berhijrah).

"Jadi waktu itu, saya dan teman-teman Kebukit lainnya nemenin mereka belajar ngaji Iqro, terus setiap malam minggu kita adakan bedah buku," kata dia.

Gugup, itulah perasaan yang muncul pada dirinya saat harus mengajarkan anak punk belajar mengaji.

"Deg-degan pastinya saat pertama kali ngajarin mereka mengaji, sempat bingung ini pendekatannya harus bagaimana, tapi di sana saya mencoba untuk menjadi teman bagi mereka, dan alhamdulillah respon balik dari mereka bagus," kata dia.

Keihlasan mengajarkan hal positif kepada anak punk berbuah manis saat saat salah seorang anak punk menghubungi dirinya dan mengucapkan terima kasih atas pemberian sebuah buku tentang Islam.

"Jadi ada salah satu leader Kawasan Punkers bilang ke saya ingin berhijrah, waktu itu dia ngirim pesan ke-WA saya mengenai begitu terkesan nya dia dengan buku yang saya pinjamkan kepada nya beberapa hari yang lalu. bukunya berjudul `Abu Bakar Assidiq Sang Khafillah Pertama`," ujar dia.

Pada mulanya anak punk tersebut seperti segan dengan buku yang saya pinjamkan, mungkin anggapannya bukunya tersebut agak "berat" untuk dibaca.

"Namun di bilang `Teh, Subhanallah ya Abu Bakar itu`, terus `Teh, memang agama itu melebihi apa pun ya` . Dua kalimat itu cukup membuat hati saya tergetar, dan mata seakan akan menjadi berat karena rasa haru," kata Nuriska.

Selama ini, kata Nuriska, dirinya tidak pernah memaksakan kehendak agar anak-anak punk tersebut mau membaca buku di perpustakaan yang didirikan, atau belajar mengaji di sana atau ikut kegiatan bedah buku setiap malam minggu.

"Saya tidak pernah mempermasalahkan ketika yang datang mengaji hanya tujuh orang atau bahkan banyak, mencapai puluhan. Karena saya yakin setiap pertemuan di Rumah Hijrah Punk adalah hendak Allah SWT," kata dia.

"Dan kedatangan mereka untuk membaca buku, belajar mengaji, itu ibaratnya semacam memberikan energi positif lain kepada saya," ujar dia.

Mendirikan Perpustakaan Ojeg

Selain menjadi sosok di balik berdiri "Rumah Hijrah Punksteur", Nuriska yang berulang tahun setiap tanggal 13 Agustus ini juga telah mendirikan Pangkalan Ojek Pintar di Jalan Cikutra, Kota Bandung.

"Pepustakaan di pangkalan ojeg ini adalah yang pertama kami buat di Kota Bandung," kata dia.

Sepintas tak berbeda dengan pangkalan di tempat lain yakni beberapa motor parkir berjejer.

Namun ada sebuah rak buku berukuran 1 x 1,5 meter yang berisi puluhan jenis buku di dalamnya.

Nuriska menuturkan, awal mula tercetus ide mendirikan "Pangkalan Ojek Pinter" ialah karena dirinya dan 10 orang lainnya di Komunitas Kebukit ingin memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada tukang ojeg ketika menunggu penumpang.

"Selama ini, saya melihat, waktu luang ketika para tukang ojek yang nunggu penumpang di pangkalannya, biasanya diisi dengan kegiatan merokok, catur atau tidur," kata dia.

Dengan adanya buku di pangkalan ojek tersebut, kata Nuriska, diharapkan tukang ojek bisa mengisi waktu senggangnya dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

"Minimal, dengan mereka membaca buku. Ada pengetahuan baru buat mereka dari buku yang dibaca saat menunggu penumpangnya di pangkalan ojeg," ujar relawan yang pernah ikut dalam Ekspedi Bakti Kesra Nusantara tahun 2013.

Buku-buku yang dihimpun oleh Komunitas Kebukit, kata Nuriska, merupakan buku sumbangan dari masyarakat.

Menurut dia, saat Komunitas Kebukit sempat disangka "sayap kanan" parpol politik ketika hendak menawarkan idenya untuk membentuk "Pangkalan Ojeg Pintar".

"Ternyata tukang ojek di sana menyangka kalau kita itu, dari partai politik. Tapi kita bantah, kita jelasin ke mereka kalau kita komunitas bukan parpol. Dan alhamdulilah mereka mengerti dan paham," kata dia.







Editor: Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga